Kamis, 19 April 2012

Warna warni Tapis Lampung

Awal bulan Maret lalu, Museum Tekstil Jakarta menggelar pameran tapis Lampung. Lebih dari seratus wastra dari rentang waktu berbeda dipamerkan selama kurang lebih sebulan. Kain tenun khas tradisional Lampung ini kerap dikenakan dalam bentuk sarung dan terkenal punya ragam hias yang variatif.

Menurut sejarahnya, konon masyarakat Lampung menenun kain brokat dan daun pelepai sejak abad ke-2 Masehi. Ragam hias yang diaplikasikan umumnya terinspirasi dari tradisi zaman itu seperti pohon hayat, bunga melati dan binatang. Masuknya agama Islam serta perkembangan lalu lintas pelayaran antar pulau di Indonesia kemudian ikut mempengaruhi corak hias pada kain. Perajin yang tinggal di lingkungan pelabuhan menghias kain dengan motif kapal.

Proses penenunan tapis memerlukan waktu beberapa bulan. Kain ditenun dengan system ikat menggunakan benang katun atau sutra dan ragam hiasnya disulam dengan menggunakan benang emas atau perak. Ciri khas inilah yang membedakan tapis dengan kain tradisional lainnya. Pengrajin seolah meninggalkan jejak karyanya dengan menyisakan benang, seperti yang terlihat pada tapis Sungkai.

Jumat, 09 Maret 2012

Adiwastra 2012: Ketika Timur menyapa Barat


Adiwastra Nusantara 2012 yang berlangsung bulan lalu di Jakarta menorehkan catatan yang mengesankan. Pameran kain tradisional ini menyuguhkan koleksi wastra yang berumur puluhan tahun dari berbagai daerah koleksi Hartono Sumarsono, seorang kolektor kain. Beberapa di antaranya songket dari Sumatra, misalnya selendang Limar Mentok dari Bangka. Selendang ini dibuat pada awal tahun 1900. Nama Limar sendiri konon timbul karena bulatan kecil yang membentuk motif mirip dengan tetesan air jeruk.
Motif Limar Mentok (Bangka)

Selasa, 18 Oktober 2011

Batik dalam denyut kehidupan manusia


World Batik Summit yang digelar di Jakarta akhir bulan lalu tidak hanya mengenalkan batik dalam lingkup komersial. Beragam kain batik dari berbagai daerah dalam rentang waktu yang berbeda hadir memberikan pengetahuan wastra nusantara. Dua stan yang menarik perhatian saya adalah stan kain Peranakan dan stan kain batik Solo & Jogja. Yang disebut pertama memajang koleksi batik peranakan yang diproduksi sekitar awal tahun 1900. Motif mahluk hidup seperti burung hong dan bunga mawar dominan menghiasi kain yang kebanyakan berwarna terang seperti merah, hijau dan kuning kecoklatan.

Sedangkan stan lainnya yang cukup banyak ditengok pengunjung adalah stan batik yang digelar oleh Paguyuban Pecinta Batik Sekar Jagad. Stan ini menarik karena mengedukasi pengunjung dengan memberikan info tentang arti dan kegunaan beragam motif batik dari Jogja & Solo tersebut. Berikut beberapa motif di antaranya:

Batik motif  Sido Asih digunakan saat Tingkeban atau upacara 7 bulanan ibu hamil

Batik motif Sido Mulyo, dipakai sebagai alas bayi saat baru lahir

 Batik motif Parang Sisik, umumnya dikenakan pada saat upacara khitanan





Senin, 29 Agustus 2011

Pewarna Alam untuk Kain Indonesia


Kain tradisional Indonesia sudah lama terkenal dengan keindahan motifnya. Motif kain-kain tersebut sangat indah, rumit dan  juga memiliki arti filosofis tertentu sesuai dengan motifnya. Keindahan motif-motif itu tentunya tidak terlepas dari komposisi warna yang memikat. Warna dan motif saling mendukung untuk membuat kain-kain tradisional terlihat indah dan anggun. Pewarnaan pada kain didapat melalui proses yang rumit, misalnya pada kain tenun, benang tenun harus diwarnai dan pada kain batik harus melalui proses perendaman yang berkali-kali untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

Jaman sekarang, hampir sebagian besar kain tradisional menggunakan pewarna buatan. Pewarna alami ditinggalkan karena biayanya lebih mahal daripada pewarna buatan dan juga proses pembuatan pewarna alami juga lama dan rumit ketimbang pewarna buatan yang dapat langsung dipakai. Tetapi seiring perkembangan jaman orang-orang mulai melirik kembali bahan pewarna alami. Alasannya pewarna alami lebih ramah lingkungan dan yang paling penting, warna yang dihasilkan pewarna alami lebih bagus dan unik.

Pewarna alami didapat dari hampir semua bagian dari tanaman seperti; batang, daun, bunga, biji, kulit biji atau akar. Sedangkan jenis tumbuhan yang biasanya digunakan untuk bahan pewarna adalah; kunyit untuk warna kuning, tanaman indigo atau nila untuk warna ungu, biji pinang untuk warna merah dan masih banyak lagi tanaman yang dapat digunakan. Tidak semua jenis kain dapat menggunakan pewarna alami, hanya kain yang berserat alam saja seperti sutra, wol dan katun yang dapat digunakan. Yang terbaik dalam penyerapan pewarnaan adalah kain sutera asli. Sedangkan bahan kain sintetis seperti polyester tidak dapat menggunakan pewarna alami karena tidak memiliki daya serap zat pewarna alam sehingga tidak mudah dalam proses pewarnaan.

Proses pembuatan pewarna alami tidak terlalu rumit. Masyarakat umum dapat membuat sendiri pewarna alami ini dengan mengekstrak bagian-bagian tumbuhan melalui proses perebusan. Atau jika tidak mau repot, pewarna alami juga banyak dijual di pasaran dalam bentuk pasta. Jika kita ingin membuat sendiri bahan pewarna alami, ada beberapa langkah dalam membuatnya:

·         Bagian tumbuhan yang ingin diekstrak dikeringkan dahulu, atau bisa saja digunakan langsung tanpa melalui proses pengeringan.

·         Rebus bahan-bahan tersebut dengan air hingga warna-warna terekstrasi. Jika menginginkan warna yang lebih gelap, maka air yang digunakan sedikit air, begitu pula sebaliknya jika menginginkan warna yang lebih muda, tambahkan air lebih banyak. Jika warna air tidak berubah (tetap bening) maka tanaman tersebut tidak dapat digunakan untuk pewarna.

·         Setelah warna terektraksi, saring air rebusan tersebut untuk memisahkan air rebusan dan sisa bahan yang diekstrak. Gunakan setelah dingin.

Sebelum kain dicelup pada bahan pewarna, ada baiknya kain dibersihkan terlebih dulu dengan air sabun selama dua jam atau semalam, setelah bilas sampai bersih dan keringkan. Langkah selanjutnya adalah merendam kain dengan air hangat  yang sudah dicampur dengan tawas, biarkan selama semalam. Keringkan kain tanpa diperas, setelah kering kain dapat disetrika. Proses ini disebut mordant, gunanya untuk membuat jembatan kimia antar pewarna alami dan serat kain supaya keterserapan, ketajaman dan kerataan warna lebih baik. Kain yang telah dimordant dapat segera melewati proses pencelupan.

Untuk menjaga agar warna dapat tahan warna dan tidak mudah luntur, setelah melewati proses pencelupan, kain harus melewati tahap terakhir yaitu proses fiksasi. Bahan yang digunakan adalah tawas, tunjung atau kapur tohor. Pilih salah satu dari bahan tersebut, campurkan dengan air (temperatur biasa), sesuaikan bahan dengan banyaknya air yang digunakan. Rendam selama 10 menit. Untuk berjaga-jaga jika terjadi perubahan warna setelah difiksasi, siapkan larutan fiksasi dengan bahan lain untuk melihat perubahan warna yang terjadi, dan gunakan sampel kain terlebih dahulu untuk melihat hasilnya. Pada umumnya bahan sutera dapat menyerap zat warna lebih baik daripada bahan lain seperti katun.
Dibawah ini adalah biji mahoni, kunyit dan pinang yang sering digunakan sebagai bahan pewarna alami.




posted by: 1235ty

Kamis, 10 Februari 2011

Tenun Gedog dari Pesisir Tuban

Motif Panji Krentil

Tuban, sebuah daerah pesisir di utara Jawa timur, turut menyumbang keberagaman kain tradisional Indonesia melalui tenun Batiknya yang lazim disebut sebagai Tenun gedog atau Batik tenun gedog. Kain Batik ini dibuat bukan hanya melalui proses pembatikan tetapi menenun terlebih dahulu lembaran kain yang akan di batik. Mungkin bagi sebagian masyarakat Tenun Gedog kurang akrab di telinga, itu dikarenakan profesi perajin Tenun Gedog ini adalah profesi sampingan, sedangkan profesi utama mereka adalah petani, jadi jika musim tanam dan panen tiba mereka turun ke sawah. Selain itu, faktor lain adalah jumlah generasi muda yang meneruskan tenun ini sedikit. Walau begitu nama tenun Gedog bukan hanya terbatas pada Kabupaten Tuban tetapi sudah mendunia, kain tenun Gedog sudah merambah mancanegara seperti Jepang, Australia, dan beberapa negara Eropa seperti Perancis dan Belanda. Nama tenun Gedog ini berasal suara saat menenun kain yang berbunyi alat tenun yang digunakan saat menenun kain yang akan dibatik, bunyinya dok-dok, sehingga kain ini kemudian dinamai Tenun Gedog.

Proses pertama dalam pembuatan kain ini adalah proses penenunan. Bahan bakunnya adalah kapas, ada dua macam kapas; kapas putih disebut lawe dan kapas coklat disebut lawa. Kapas putih dapat diperoleh di sekitar rumah para penenun, sedangkan kapas coklat didatangkan dari daerah lain. Proses pertama adalah merebus benang yang sudah dipintal agar tidak mudah putus. Setalah itu benang dikanji dengan beras dengan tujuan untuk meratakan bulu-bulu benang, penenun akan menyikat benang jika masih ditemukan bulu. Selanjutnya benang akan dijemur dan setelah benar-benar kering, benang digulung sesuai dengan keinginan. Jadi jika kain yang ditenun lebih lebar dari standar maka gulungan benangpun akan lebih besar. Proses tenun ini biasanya memakan waktu sampai 2 hari.

Rabu, 05 Januari 2011

Sentra kain nusantara


Beragam motif indah yang menghiasi kain tradisional dihasilkan oleh perajin kain yang tersebar di penjuru nusantara. Di sudut-sudut desa dan kampung, mereka berusaha mengolah peninggalan budaya ini sehingga keberadaannya langgeng. Mengenal sentra pembuatan kain adalah salah satu cara membantu pelestarian kain pusaka.

  1. Desa Muara Penimbung, Palembang

Desa ini terletak sekitar 35 km dari pusat kota Palembang. Awalnya perajin kain disini hanya berjumlah 5 orang ketika pusat songket ini berdiri tahun 1990. Kini, hampir seluruh penduduk wanita desa turut serta mengolah songket. Harga yang ditawarkan disini mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Motif yang tersaji dalam tiap helai kain terdiri dari motif tumbuh-tumbuhan, geometris dan campuran keduanya. Masing-masing memiliki makna, misalnya aroma bunga semerbak menggambarkan kebajikan dalam kehidupan.

Selasa, 04 Januari 2011

Batik Jambi, Si Langka dari Pulau Sumatra

                                                        Motif Duren Pecah
                                                                                       by: Rumah Batik Zhorif
Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar kata Batik? Kain, Kota Jogjakarta, Batik Solo atau pulau Jawa ….. Pasti tidak jauh- jauh dari kosakata itu. Jika membahas kain tradisional yang satu ini, pasti kita tidak menyangka kalau sebuah propinsi di Pulau Sumatra juga memiliki kain Batik. Kebanyakan kain tradisional di Pulau Sumatra dibuat melalui proses tenun seperti songket, ulos, dan tapis. Tetapi Propinsi Jambi memiliki kain yang unik yang berbeda dari propinsi lainnya di Pulau Sumatra, yaitu Batik Jambi. Batik Jambi ini seperti Batik-Batik lainnya yang berasal dari Pulau Jawa, yaitu melalui proses pelukisan dan pencelupan.

Kisah Batik Jambi juga erat dengan Pulau Jawa. Kisahnya berawal dari Haji Muhibat yang berasal dari Jawa, datang bersama keluargnya dan kemudian menetap di Jambi. Kemudian ia memperkenalkan Batik dan cara pengolahannya. Sejak saat itu Batik mulai dikenal di Jambi sampai saat ini, tentu saja motifnya disesuaikan dengan selera masyarakat Jambi. Pada waktu itu motif yang banyak digambar adalah ukiran-ukiran yang terdapat di rumah adat Jambi.

Keragaman Batik Jambi dibagi berdasarkan Kabupaten di propinsi Jambi. Kebanyakan motif Batik Jambi terinspirasi dari kehidupan sehari-hari seperti sungai Batanghari, buah-buahan, binatang, dedaunan, dan alat transportasi. Karena motif yang sangat merakyat, maka motif Batik Jambi ini tidak ditujukan untuk kalangan tertentu atau kelas tertentu. Jika ada kalangan bangsawan yang memakai motif yang eksklusif, kebanyakan disebabkan karena motif tersebut masih baru dan seiring dengan waktu motif tersebut juga akan populer di masyarakat umum. Ini mirip dengan Batik Tatar Sunda baik dari penggambaran motif dan juga aturan pemakaiannya. Berikut ini adalah beberapa daerah dengan motif khasnya:

Selasa, 28 Desember 2010

Aplikasi Kain Tradisional: Sentuhan Tradisional pada Pernak-Pernik Masa Kini

Beberapa waktu lalu sebagian masyarakat, terutama kaum muda menganggap bahwa kain tradisional itu kuno. Hanya cocok dipakai oleh orang tua, orang desa atau hanya cocok digunakan pada acara tertentu saja, selebihnya tentu saja kain tradisional selalu menjadi nomor dua dalam pemilihan busana. Tetapi sekarang tidak lagi, sejak booming batik dan juga pengukuhan Batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO, pamor batik naik tak ketinggalan pula dengan kain tradisional lainnya yang semula tak dilirik, hampir punah atau cuma disimpan di lemari juga ikut terangkat.

Busana berbasiskan kain tradisional pun sekarang bisa disejajarkan dengan busana ala barat lainnya, singkat kata orang-orang tidak sungkan lagi memakain kain tradisional. Euphoria ini juga didukung oleh perancang-perancang ternama yang mulai (atau malah dari dulu) mengaplikasikan kain tradisional pada hasil rancangan mereka. Sebut saja nama Oscar Lawalata yang menggunakan kain ikat Sumba, atau rancangan berkelas milik Ghea Panggabean. Kain tradisional tidak lagi kaku dan bernuansa formal. Ia bertransformasi menjadi sesuatu yang mengikuti perkembangan jaman. Kini tidak lagi sulit menemukan gaun, baju atau celana yang terbuat dari bahan kain tradisional.

Minggu, 08 Agustus 2010

Sarung, dulu dan kini


Sebagian besar masyarakat Indonesia tentu tak asing dengan kain bernama sarung. Kain yang kedua ujungnya dijahit sehingga menyerupai tabung ini dipakai oleh pria dan wanita dalam banyak kesempatan. Bahkan seolah menjadi tradisi bagi pria muslim untuk mengenakan sarung saat beribadah.

Proses penyebaran agama Islam melalui perdagangan kabarnya turut pula mendatangkan tradisi penggunaan sarung yang dikenalkan oleh pedagang Yaman. Pemakaiannya yang sederhana dan tidak menunjukkan aurat pemakainya membuat kain ini menjadi populer dalam di kalangan muslim Indonesia. Pada zaman penjajahan Belanda, para santri bahkan mengenakannya sebagai symbol perlawanan terhadap pengaruh budaya barat.

Seiring perkembangan zaman, sarung dipakai tidak hanya dipakai untuk ritual keagamaan, tetapi juga upacara adat dan bahan sandang sehari-hari. Salah satu daerah penghasil kain tenun yang menjadi bahan sarung adalah Sulawesi Selatan, tepatnya di kawasan Sengkang dan Mandar. Masyarakat suku Bugis di kedua daerah ini memiliki ketrampilan menenun kain turun temurun. Corak khas sarung buatan Sengkang selain kotak-kotak kecil dan besar, juga garis zig-zag beraneka warna. Warna yang dihasilkan umumnya cerah seperti merah muda, kuning, hijau muda, dan merah terang. Sedangkan sarung Bugis buatan Mandar biasanya berwarna lebih gelap seperti merah marun, hijau tua dan hitam. Ragam hias yang dihasilkan selain kotak-kotak, juga bunga-bunga yang tersebar di seluruh permukaan kain dengan memakai benang metalik.
Sarung Bugis


Jumat, 30 Juli 2010

Doa, Harapan dan Kain


Berbicara mengenai kain tradisional Indonesia, bukan hanya berbicara mengenai pelindung tubuh, juga bukan mengenai trend fashion semata. Kain tradisional Indonesia sarat akan makna dan tujuan. Dalam selembar kain sarat akan doa dan harapan agar si pemakai terlindungi dari segala marabahaya maupun musibah, serta selalu mendapat perlindungan dari Tuhan Yang Mahakuasa. Semua doa dan pengharapan itu disimbolisasikan melalui motif-motif yang tergambar di atas kain.



Membuat kain tradisional, tidak hanya sebuah proses merubah bahan mentah menajdi selembar kain yang cantik dan indah tetapi juga sebuah ritual yang penuh dengan kesakralan dan kesucian. Umumnya proses pertama dari pembuatan kain tradisional adalah berdoa, tujuannya jelas untuk meminta kesabaran dan ketekunan selama proses pembuatan serta kain yang akan diselesaikan nanti dapat memberikan kebaikan bagi siapapun yang memakainya.

Dan setelah meneliti dan menulis beberapa kain tradisional, penulis berkesimpulan bahwa kekhasan kain tradisional terdapat pada teknik pembuatan kain, bahan pembuat kain (sutra, katun, benang emas atau perak), dan yang paling utama adalah motif. Motif inilah yang menjadi pembeda fungsi setiap kain. Beberapa motif menunjukkan fungsi sebagai berikut:
• Penentu status sosial. Pada umumnya, kain tradisional memliki motif-motif khusus yang hanya boleh dikenakan oleh orang yang berasal dari kalangan tertentu (keluarga kerajaan, bangsawan atau orang yang berkecukupan). Misalnya motif parang pada Batik Jogjakarta, yang hanya boleh dikenakan oleh Sultan. Pada saat sekarang ini, motif yang dulunya hanya ditujukan kepada keluarga bangsawan ini sekarang boleh dipakai siapa saja asalkan di luar lingkungan keraton.

Jumat, 09 Juli 2010

Sarita, wastra pusaka Toraja


 (Kain Sarita motif manusia - Koleksi Museum Tekstil)

Sebagai kain pusaka yang dianggap sakral oleh masyarakat Toraja, keberadaan kain Sarita dalam ritual adat memiliki peranan penting. Salah  satunya adalah upacara kematian. Upacara besar ini dipercaya mampu mengantar seseorang yang meninggal ke alam baka. Kehadiran kain adat tersebut bukan hanya melambangkan status tetapi juga symbol restu keluarga. 

Sabtu, 03 Juli 2010

Tapis, si Manis dari Lampung



                                    Perajin kain Tapis sedang menyisipkan kaca ke kain.

Lampung tidak hanya penghasil gula, tapi juga salah satu daerah penghasil kain yang tak kalah cantiknya dengan kain yang berasal dari daerah lain. Tapis nama kain itu, kain tenun yang cerah dan bercorak warna-warni meriah ini merupakan kain tenun yang mempunyai corak garis-garis dan kaya akan motif alam seperti flora dan fauna. Satu keunikan dari kain Tapis adalah adanya pecahan kaca yang disisipkan ke dalam tenunan, yang membuat kain Tapis semakin berkilau ketika digunakan. Sekarang ini Tapis jarang digunakan sebagai busana sehari-hari, penggunaannya hanya sebatas pada ritual adat dan keagamaan seperti pada perkawinan.

Bahan utama pembuat Tapis adalah kapas. Benang kapas digunakan sebagai latar tenunan dan benang emas dan/atau perak sebagai pembentuk motif, benang jenis ini digunakan dengan teknik sulam, sedangkan untuk benang latar digunakan teknik tenun ikat. Perwarnaan menggunakan bahan alami, seperti kunyit untuk warna kuning, mahoni untuk warna coklat. Untuk pengawetan benang digunakan akar serai wangi, dan untuk meregangkan benang digunakan lilin sarang lebah. Setelah tahun 1950, para perajin Tapis tidak lagi menggunakan bahan pewarna alami selain karena bahan baku alami yang makin sulit didapat, benang sintetis juga sudah banyak beredar di pasaran. Selain kapas, Tapis juga dibuat ada yang terbuat dari sutera.

Rabu, 02 Juni 2010

Menatap keunikan kain tenun ikat Sumba Timur


Bagi masyarakat Sumba, sebuah daerah di kepulauan Nusa Tenggara Timur, kain tenun ikat telah menyatu dengan kehidupan keseharian dan memiliki makna tersendiri. Kain ini bukan hanya sebagai alat tukar niaga antar kerabat, tapi juga mengambil peran dalam beragam upacara adat. Misalnya dalam upacara perkawinan, pihak pria memberikan barang seperti emas dan kuda, sedang pihak wanita menyerahkan kain tenun dan perhiasan manik-manik. Upacara kematian dalam adat Sumba juga memperlihatkan keistimewaan kain ini dengan mengikutsertakan puluhan bahkan ratusan kain tenun ke dalam kubur. 

Kamis, 27 Mei 2010

Riangnya Batik Priangan



                                      Batik Tasikmalaya motif Menuk Papangkah Latar Cupat Manggu


                                             Batik Garut motif Buku Awi


                                                                                   Batik Ciamis motif Ardilaya

Kali ini, Warisan Kain Pusaka akan mengulas tentang Batik Priangan, yang tersebar di Tasikmalya, Garut, dan Ciamis. Batik ini juga merupakan bagian dari Batik Tatar Sunda bersama dengan Batik dari Cirebon dan Indramayu. Perbedaan hanya terdapat pada warna dan motif, pada Batik Cirebon yang sebagian besar masyarakatnya adalah nelayan warnanya lebih cerah dan motifnya kebanyakan mengambil tema laut seperti ganggang. Dan pada Batik priangan yang sebagian besar masyarakatnya agraris, berprofesi sebagai petani, lebih menonjolkan motif yang bertema agraris seperti padi, burung bangau, warnanya pun masih cerah tetapi ada daerah yang lebih menonjolkan warna klasik seperti coklat dan hitam.

Minggu, 16 Mei 2010

Geulisnya Batik Tatar Sunda (I)

Siapa yang tidak kenal dengan Jawa Barat? Keelokkan alam, iklim yang sejuk juga hasil bumi yang melimpah. Di balik semua itu, Jawa Barat yang terkenal dengan nama Sunda, memiliki ragam batik yang tidak kalah menarik dari tempat lain seperti Jogjakarta dan Solo. Batik Cirebon adalah salah satu yang terkenal, selain di Cirebon Batik Tatar Sunda berkembang di daerah Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan Indramayu. Masing-masing daerah memiliki corak yang khas yang dipengaruhi oleh budaya daerah dan negeri lain.



Awal mula Batik Tatar Sunda tidak dapat dipisahkan dari sejarang Perang Diponegoro (1825-1830). Perang antara Pangeran Diponegoro dan Belanda berawal dari pembangunan jalan dari Yogyakarta ke Magelang melewati Muntilan. Salah satu sektor dari jalan tersebut melewati makam leluhur, inilah pemicu dari perang besar yang banyak memakan korban dari kedua belah pihak. Selain korban jiwa yang banyak, perang ini juga menyebabkan pengungsi yang lari ke daerah Jawa Barat, para pengungsi ini kebanyakan berprofesi sebagai pembatik dan pada kemudian hari berkontribusi pada motif khususnya warna latar pada Batik Tatar Sunda.


Kamis, 06 Mei 2010

Kain Sasirangan


Warna cerah dan motif alam yang variatif adalah sedikit dari sekian banyak daya pikat kain Sasirangan. Kain tradisional yang identik dengan provinsi Kalimantan Selatan ini bukan hanya menarik secara visual tapi juga sarat makna filosofis dibaliknya,

Menilik sejarahnya, kain Sasirangan dulunya dibuat hanya berdasarkan permintaan. Karena itu awalnya kain ini dikenal dengan kain pamintan, dan dipakai dalam upacara adat suku Banjar. Kain yang dibuat dapat berbentuk laung (ikat kepala), kakamban (kerudung), udat (kemben) atau tapih (sarung).

Sabtu, 01 Mei 2010

Rahasia Gringsing

Pewarnaan pada kain tradisional biasanya memakai pewarna yang berasal dari alam; daun, kulit atau akar pohon. Berbeda dengan kain Gringsing asal Bali ini, konon warna merah dari kain yang didominasi warna merah, berasal dari darah manusia. Darah tersebut memang dipercaya memiliki kekuatan khusus seperti menolak bala, melindungi si pemakai dari hal-hal yang buruk (magis).


Tentulah bahan pewarnaan itu hanyalah mitos, warna merah didapat dari kelopak pohon kepudung putih dicampur dengan akar pohon sunti. Mitos tersebut dibuat untuk menjaga agar teknik dan motif kain Gringsing tidak dibawa keluar dari Desa Tenganan. Mitos lainnya, wanita yang sedang datang bulan tidak diperkenankan membuat kain ini.

Sebelum memulai menenun, ada upacara doa yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mendapatkan keselamatan selama pengerjaan dan juga untuk hasil yang baik. Proses upacara dimulai dengan mencelupkan benang ke dalam minyak lilin dan air serbuk kayu ke dalam wadah yang disebut tanah hat kemudian ditutup dengan kain putih hitam untuk menghindari adanya pengaruh dari roh jahat. Sesaji diberikan seiring dengan ikatan pertama disimpulkan. Sesaji berupa kembang sepatu, daun sirih gulung, sirih, dan 2 set uang kepeng yang pada lubangnya digantungkan kain katun dan diikatkan ke dua buah kendi. Ikatan terakhir hanya boleh dilakukan oleh wanita yang sudah tidak datang bulan lagi.

Sabtu, 24 April 2010

Tenun Dobel Ikat Gringsing

Pada awal mulanya, tenun ikat berasal dari Gujarat, gunanya untuk membuat kain patola yang diekspor ke Indonesia dan dipakai oleh kalangan bangsawan. Selain ditemukan di India dan Indonesia, tenun ikat juga ditemukan di negara-negara Asia Tenggara, Jepang, dan Amerika Selatan (Mexico, Guatemala, Argentina). Tenun ikat menggunakan teknik ikat dan pencelupan pada saat pewarnaan kain. Pada teknik dobel ikat, benang pakan dan lungsi sama-sama dicelup.

Proses pertama dari tenun dobel ikat ini adalah pewarnaan benang pakan dan lungsi. Pertama-tama benang diikat dan kemudian dicelup, warna yang digunakan berasal dari alam seperti serbuk kayu. Setelah kering, benang kemudian digulung dan dimasukkan ke dalam tabung bambu. Proses pewarnaan benang sampai mendapatkan warna yang diinginkan memakan waktu 2-3 minggu.

Setelah proses pencelupan, benamg-benang tersebut telah siap untuk ditenun. Setiap helai benang dari setiap gulung untuk setiap detail motif yang dibuat. Pada teknik ikat, benang lungsi digunakan untuk kain latar, sedangkan benang pakan ditambahkan pada kain latar untuk dijadikan motif. Tenun ikat dari Indonesia khususnya dari Timor, jarak benang pada motif sangat rapat, berbeda dengan tenun ikat dari Jepang atau Guatemala. Teknik dinamakan sebagai tenun ikat.

PadaTenun dobel ikat, baik benang pakan dan benang lungsi sama-sama dicelup pada proses pewarnaan dan kemudian diikat dan ditenun secara bersamaan. Tenun dobel ikat adalah teknik yang tersulit dan membutuhkan keahlian yang tinggi serta proses pembuatannya yang memakan waktu lama. Perbedaan dobel ikat dengan ikat adalah:

• Benang pakan tidak mengalami proses pencelupan.
• Benang pakan langsung ditambahkan pada kain latar.

Kita perlu berbangga karena, Indonesia merupakan penghasil tenun dobel ikat yang terbaik selain India.

Jumat, 16 April 2010

Gringsing, Pesona Pulau Dewata

Bali selain terkenal dengan pesona alam serta adat istiadatnya, juga terkenal dengan kain khasnya, yaitu kain grinsing. Kain ini dibuat di desa Tenganan di Kabupaten Karangasem, desa ini sering disebut juga Bali Aga, yang merupakan tempat tinggal suku asli Bali dan masih mempertahankan kehidupan tradisonal. Dari sinilah kain Grinsing berasal, kata Gringsing sendiri terdiri dari kata ‘gering’ yang berarti sakit atau musibah dan ‘sing’ yang berarti tidak. Dan arti kain itu adalah penolak bala.


Kain Gringsing dibuat melalui proses tenun dobel ikat kain yang sulit dan memakai waktu cukup lama dalam proses pembuatannya, sampai memakan waktu kurang lebih 3 tahun. Teknik tenun dobel ikat kain sendiri hanya ditemui di 3 tempat di dunia, Indonesia, India dan Jepang. Karena itu, kain Gringsing merupakan kain yang langka dan mahal harganya. Warna kain ini didominasi dengan warna merah dan pewarnaanya masih menggunakan pewarna alami seperti:

• Warna merah: dari kelopak pohon kepudung putih dicampur dengan akar pohon sunti.
• Warna kuning: dari minyak buah kemiri yang berumur 1 tahun dan dicampur dengan abu kayu kemiri.
• Warna hitam: dari pohon taum.

Kamis, 15 April 2010

'Mendengar' dan 'Membaca' Kain di Adiwastra Nusantara 2010


                                                                              Tenun ikat NTT


Hari ini kami berkesempatan mengunjungi pameran tekstil yang bertajuk Adiwastra Nusantara. Eksibisi yang digelar di Balai Sidang Jakarta dari tanggal 14-18 April ini menampilkan koleksi kain tradisional dari berbagai daerah di Indonesia baik produksi baru maupun yang berusia ratusan tahun.

Memasuki hall A, kami disambut beragam koleksi kain gendongan pusaka dengan motif langka. Misalnya lurik dengan motif Tuluh Watu, yang melambangkan kekuatan dan keperkasaan. Motif ini telah disebutkan dalam prasasti raja Airlangga. Kami juga mendapati ulos dengan pola Batak tertua yang disebut Bintang Maratur. Sementara kain gendongan dari daerah lain seperti Lasem, Solo dan Pekalongan memiliki corak dominan bunga dan binatang. Selain berfungsi untuk menggendong anak, beberapa kain juga digunakan untuk mengangkut barang, contohnya lurik dengan motif Benang pedot.