Tampilkan postingan dengan label Gringsing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gringsing. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Mei 2010

Rahasia Gringsing

Pewarnaan pada kain tradisional biasanya memakai pewarna yang berasal dari alam; daun, kulit atau akar pohon. Berbeda dengan kain Gringsing asal Bali ini, konon warna merah dari kain yang didominasi warna merah, berasal dari darah manusia. Darah tersebut memang dipercaya memiliki kekuatan khusus seperti menolak bala, melindungi si pemakai dari hal-hal yang buruk (magis).


Tentulah bahan pewarnaan itu hanyalah mitos, warna merah didapat dari kelopak pohon kepudung putih dicampur dengan akar pohon sunti. Mitos tersebut dibuat untuk menjaga agar teknik dan motif kain Gringsing tidak dibawa keluar dari Desa Tenganan. Mitos lainnya, wanita yang sedang datang bulan tidak diperkenankan membuat kain ini.

Sebelum memulai menenun, ada upacara doa yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mendapatkan keselamatan selama pengerjaan dan juga untuk hasil yang baik. Proses upacara dimulai dengan mencelupkan benang ke dalam minyak lilin dan air serbuk kayu ke dalam wadah yang disebut tanah hat kemudian ditutup dengan kain putih hitam untuk menghindari adanya pengaruh dari roh jahat. Sesaji diberikan seiring dengan ikatan pertama disimpulkan. Sesaji berupa kembang sepatu, daun sirih gulung, sirih, dan 2 set uang kepeng yang pada lubangnya digantungkan kain katun dan diikatkan ke dua buah kendi. Ikatan terakhir hanya boleh dilakukan oleh wanita yang sudah tidak datang bulan lagi.

Sabtu, 24 April 2010

Tenun Dobel Ikat Gringsing

Pada awal mulanya, tenun ikat berasal dari Gujarat, gunanya untuk membuat kain patola yang diekspor ke Indonesia dan dipakai oleh kalangan bangsawan. Selain ditemukan di India dan Indonesia, tenun ikat juga ditemukan di negara-negara Asia Tenggara, Jepang, dan Amerika Selatan (Mexico, Guatemala, Argentina). Tenun ikat menggunakan teknik ikat dan pencelupan pada saat pewarnaan kain. Pada teknik dobel ikat, benang pakan dan lungsi sama-sama dicelup.

Proses pertama dari tenun dobel ikat ini adalah pewarnaan benang pakan dan lungsi. Pertama-tama benang diikat dan kemudian dicelup, warna yang digunakan berasal dari alam seperti serbuk kayu. Setelah kering, benang kemudian digulung dan dimasukkan ke dalam tabung bambu. Proses pewarnaan benang sampai mendapatkan warna yang diinginkan memakan waktu 2-3 minggu.

Setelah proses pencelupan, benamg-benang tersebut telah siap untuk ditenun. Setiap helai benang dari setiap gulung untuk setiap detail motif yang dibuat. Pada teknik ikat, benang lungsi digunakan untuk kain latar, sedangkan benang pakan ditambahkan pada kain latar untuk dijadikan motif. Tenun ikat dari Indonesia khususnya dari Timor, jarak benang pada motif sangat rapat, berbeda dengan tenun ikat dari Jepang atau Guatemala. Teknik dinamakan sebagai tenun ikat.

PadaTenun dobel ikat, baik benang pakan dan benang lungsi sama-sama dicelup pada proses pewarnaan dan kemudian diikat dan ditenun secara bersamaan. Tenun dobel ikat adalah teknik yang tersulit dan membutuhkan keahlian yang tinggi serta proses pembuatannya yang memakan waktu lama. Perbedaan dobel ikat dengan ikat adalah:

• Benang pakan tidak mengalami proses pencelupan.
• Benang pakan langsung ditambahkan pada kain latar.

Kita perlu berbangga karena, Indonesia merupakan penghasil tenun dobel ikat yang terbaik selain India.

Jumat, 16 April 2010

Gringsing, Pesona Pulau Dewata

Bali selain terkenal dengan pesona alam serta adat istiadatnya, juga terkenal dengan kain khasnya, yaitu kain grinsing. Kain ini dibuat di desa Tenganan di Kabupaten Karangasem, desa ini sering disebut juga Bali Aga, yang merupakan tempat tinggal suku asli Bali dan masih mempertahankan kehidupan tradisonal. Dari sinilah kain Grinsing berasal, kata Gringsing sendiri terdiri dari kata ‘gering’ yang berarti sakit atau musibah dan ‘sing’ yang berarti tidak. Dan arti kain itu adalah penolak bala.


Kain Gringsing dibuat melalui proses tenun dobel ikat kain yang sulit dan memakai waktu cukup lama dalam proses pembuatannya, sampai memakan waktu kurang lebih 3 tahun. Teknik tenun dobel ikat kain sendiri hanya ditemui di 3 tempat di dunia, Indonesia, India dan Jepang. Karena itu, kain Gringsing merupakan kain yang langka dan mahal harganya. Warna kain ini didominasi dengan warna merah dan pewarnaanya masih menggunakan pewarna alami seperti:

• Warna merah: dari kelopak pohon kepudung putih dicampur dengan akar pohon sunti.
• Warna kuning: dari minyak buah kemiri yang berumur 1 tahun dan dicampur dengan abu kayu kemiri.
• Warna hitam: dari pohon taum.