Jumat, 09 Juli 2010

Sarita, wastra pusaka Toraja


 (Kain Sarita motif manusia - Koleksi Museum Tekstil)

Sebagai kain pusaka yang dianggap sakral oleh masyarakat Toraja, keberadaan kain Sarita dalam ritual adat memiliki peranan penting. Salah  satunya adalah upacara kematian. Upacara besar ini dipercaya mampu mengantar seseorang yang meninggal ke alam baka. Kehadiran kain adat tersebut bukan hanya melambangkan status tetapi juga symbol restu keluarga. 

Sabtu, 03 Juli 2010

Tapis, si Manis dari Lampung



                                    Perajin kain Tapis sedang menyisipkan kaca ke kain.

Lampung tidak hanya penghasil gula, tapi juga salah satu daerah penghasil kain yang tak kalah cantiknya dengan kain yang berasal dari daerah lain. Tapis nama kain itu, kain tenun yang cerah dan bercorak warna-warni meriah ini merupakan kain tenun yang mempunyai corak garis-garis dan kaya akan motif alam seperti flora dan fauna. Satu keunikan dari kain Tapis adalah adanya pecahan kaca yang disisipkan ke dalam tenunan, yang membuat kain Tapis semakin berkilau ketika digunakan. Sekarang ini Tapis jarang digunakan sebagai busana sehari-hari, penggunaannya hanya sebatas pada ritual adat dan keagamaan seperti pada perkawinan.

Bahan utama pembuat Tapis adalah kapas. Benang kapas digunakan sebagai latar tenunan dan benang emas dan/atau perak sebagai pembentuk motif, benang jenis ini digunakan dengan teknik sulam, sedangkan untuk benang latar digunakan teknik tenun ikat. Perwarnaan menggunakan bahan alami, seperti kunyit untuk warna kuning, mahoni untuk warna coklat. Untuk pengawetan benang digunakan akar serai wangi, dan untuk meregangkan benang digunakan lilin sarang lebah. Setelah tahun 1950, para perajin Tapis tidak lagi menggunakan bahan pewarna alami selain karena bahan baku alami yang makin sulit didapat, benang sintetis juga sudah banyak beredar di pasaran. Selain kapas, Tapis juga dibuat ada yang terbuat dari sutera.

Rabu, 02 Juni 2010

Menatap keunikan kain tenun ikat Sumba Timur


Bagi masyarakat Sumba, sebuah daerah di kepulauan Nusa Tenggara Timur, kain tenun ikat telah menyatu dengan kehidupan keseharian dan memiliki makna tersendiri. Kain ini bukan hanya sebagai alat tukar niaga antar kerabat, tapi juga mengambil peran dalam beragam upacara adat. Misalnya dalam upacara perkawinan, pihak pria memberikan barang seperti emas dan kuda, sedang pihak wanita menyerahkan kain tenun dan perhiasan manik-manik. Upacara kematian dalam adat Sumba juga memperlihatkan keistimewaan kain ini dengan mengikutsertakan puluhan bahkan ratusan kain tenun ke dalam kubur. 

Kamis, 27 Mei 2010

Riangnya Batik Priangan



                                      Batik Tasikmalaya motif Menuk Papangkah Latar Cupat Manggu


                                             Batik Garut motif Buku Awi


                                                                                   Batik Ciamis motif Ardilaya

Kali ini, Warisan Kain Pusaka akan mengulas tentang Batik Priangan, yang tersebar di Tasikmalya, Garut, dan Ciamis. Batik ini juga merupakan bagian dari Batik Tatar Sunda bersama dengan Batik dari Cirebon dan Indramayu. Perbedaan hanya terdapat pada warna dan motif, pada Batik Cirebon yang sebagian besar masyarakatnya adalah nelayan warnanya lebih cerah dan motifnya kebanyakan mengambil tema laut seperti ganggang. Dan pada Batik priangan yang sebagian besar masyarakatnya agraris, berprofesi sebagai petani, lebih menonjolkan motif yang bertema agraris seperti padi, burung bangau, warnanya pun masih cerah tetapi ada daerah yang lebih menonjolkan warna klasik seperti coklat dan hitam.

Minggu, 16 Mei 2010

Geulisnya Batik Tatar Sunda (I)

Siapa yang tidak kenal dengan Jawa Barat? Keelokkan alam, iklim yang sejuk juga hasil bumi yang melimpah. Di balik semua itu, Jawa Barat yang terkenal dengan nama Sunda, memiliki ragam batik yang tidak kalah menarik dari tempat lain seperti Jogjakarta dan Solo. Batik Cirebon adalah salah satu yang terkenal, selain di Cirebon Batik Tatar Sunda berkembang di daerah Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan Indramayu. Masing-masing daerah memiliki corak yang khas yang dipengaruhi oleh budaya daerah dan negeri lain.



Awal mula Batik Tatar Sunda tidak dapat dipisahkan dari sejarang Perang Diponegoro (1825-1830). Perang antara Pangeran Diponegoro dan Belanda berawal dari pembangunan jalan dari Yogyakarta ke Magelang melewati Muntilan. Salah satu sektor dari jalan tersebut melewati makam leluhur, inilah pemicu dari perang besar yang banyak memakan korban dari kedua belah pihak. Selain korban jiwa yang banyak, perang ini juga menyebabkan pengungsi yang lari ke daerah Jawa Barat, para pengungsi ini kebanyakan berprofesi sebagai pembatik dan pada kemudian hari berkontribusi pada motif khususnya warna latar pada Batik Tatar Sunda.


Kamis, 06 Mei 2010

Kain Sasirangan


Warna cerah dan motif alam yang variatif adalah sedikit dari sekian banyak daya pikat kain Sasirangan. Kain tradisional yang identik dengan provinsi Kalimantan Selatan ini bukan hanya menarik secara visual tapi juga sarat makna filosofis dibaliknya,

Menilik sejarahnya, kain Sasirangan dulunya dibuat hanya berdasarkan permintaan. Karena itu awalnya kain ini dikenal dengan kain pamintan, dan dipakai dalam upacara adat suku Banjar. Kain yang dibuat dapat berbentuk laung (ikat kepala), kakamban (kerudung), udat (kemben) atau tapih (sarung).

Sabtu, 01 Mei 2010

Rahasia Gringsing

Pewarnaan pada kain tradisional biasanya memakai pewarna yang berasal dari alam; daun, kulit atau akar pohon. Berbeda dengan kain Gringsing asal Bali ini, konon warna merah dari kain yang didominasi warna merah, berasal dari darah manusia. Darah tersebut memang dipercaya memiliki kekuatan khusus seperti menolak bala, melindungi si pemakai dari hal-hal yang buruk (magis).


Tentulah bahan pewarnaan itu hanyalah mitos, warna merah didapat dari kelopak pohon kepudung putih dicampur dengan akar pohon sunti. Mitos tersebut dibuat untuk menjaga agar teknik dan motif kain Gringsing tidak dibawa keluar dari Desa Tenganan. Mitos lainnya, wanita yang sedang datang bulan tidak diperkenankan membuat kain ini.

Sebelum memulai menenun, ada upacara doa yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mendapatkan keselamatan selama pengerjaan dan juga untuk hasil yang baik. Proses upacara dimulai dengan mencelupkan benang ke dalam minyak lilin dan air serbuk kayu ke dalam wadah yang disebut tanah hat kemudian ditutup dengan kain putih hitam untuk menghindari adanya pengaruh dari roh jahat. Sesaji diberikan seiring dengan ikatan pertama disimpulkan. Sesaji berupa kembang sepatu, daun sirih gulung, sirih, dan 2 set uang kepeng yang pada lubangnya digantungkan kain katun dan diikatkan ke dua buah kendi. Ikatan terakhir hanya boleh dilakukan oleh wanita yang sudah tidak datang bulan lagi.