Selasa, 04 Januari 2011

Batik Jambi, Si Langka dari Pulau Sumatra

                                                        Motif Duren Pecah
                                                                                       by: Rumah Batik Zhorif
Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar kata Batik? Kain, Kota Jogjakarta, Batik Solo atau pulau Jawa ….. Pasti tidak jauh- jauh dari kosakata itu. Jika membahas kain tradisional yang satu ini, pasti kita tidak menyangka kalau sebuah propinsi di Pulau Sumatra juga memiliki kain Batik. Kebanyakan kain tradisional di Pulau Sumatra dibuat melalui proses tenun seperti songket, ulos, dan tapis. Tetapi Propinsi Jambi memiliki kain yang unik yang berbeda dari propinsi lainnya di Pulau Sumatra, yaitu Batik Jambi. Batik Jambi ini seperti Batik-Batik lainnya yang berasal dari Pulau Jawa, yaitu melalui proses pelukisan dan pencelupan.

Kisah Batik Jambi juga erat dengan Pulau Jawa. Kisahnya berawal dari Haji Muhibat yang berasal dari Jawa, datang bersama keluargnya dan kemudian menetap di Jambi. Kemudian ia memperkenalkan Batik dan cara pengolahannya. Sejak saat itu Batik mulai dikenal di Jambi sampai saat ini, tentu saja motifnya disesuaikan dengan selera masyarakat Jambi. Pada waktu itu motif yang banyak digambar adalah ukiran-ukiran yang terdapat di rumah adat Jambi.

Keragaman Batik Jambi dibagi berdasarkan Kabupaten di propinsi Jambi. Kebanyakan motif Batik Jambi terinspirasi dari kehidupan sehari-hari seperti sungai Batanghari, buah-buahan, binatang, dedaunan, dan alat transportasi. Karena motif yang sangat merakyat, maka motif Batik Jambi ini tidak ditujukan untuk kalangan tertentu atau kelas tertentu. Jika ada kalangan bangsawan yang memakai motif yang eksklusif, kebanyakan disebabkan karena motif tersebut masih baru dan seiring dengan waktu motif tersebut juga akan populer di masyarakat umum. Ini mirip dengan Batik Tatar Sunda baik dari penggambaran motif dan juga aturan pemakaiannya. Berikut ini adalah beberapa daerah dengan motif khasnya:

• Jambi: Batanghari, Merak Ngeram, Durian Pecah, Kapal Sanggat, Kuao Berhias.
• Kerinci: Encong Kerinci, Daun The, Bungo Kopi.
• Tanjung Jabung Barat : Cumi-cumi, Kerang, Kepiting
• Sarolangun: Panah Kubu, Daun Jeruk.
• Bungo: Gajah, Bungo Bangkai.
• Muaro Jambi: Candi Muaro Jambi, Nanas.
• Tebo: Daun Karet, Lebah Madu, Bungo Cabe.
• Batanghari: Bungo Sawit, Perahu Pencalong.

Khusus motif Encong Kerinci bukan berupa gambar tetapi tulisan asli Jambi. Pada mulanya pewarna yang digunakan adalah pewarna alam, yaitu; warna kuning kemerahan dihasilkan oleh kayu sepang, warna merah kecoklatan dihasilkan oleh kayu ramelang, warna kuning dihasilkan oleh kayu lambato, dan warna biru berasal dari kayu nilo.

Seperti kain tradisional lainnya yang mempunyai makna filosofis di balik keelokkan motifnya, Batik Jambi pun mempunyai arti di setiap motifnya:
• Kapal Sanggat: artinya agar selalu berhati-hati dalam mengarungi kehidupan.
• Duren Pecah: artinya dalam menghadapi suatu masalah harus didasari oleh kematangan iman dan takwa serta ilmu pengetahuan agar hasilnya baik bagi orang dan keluarga tersebut.
• Kuao Berhias: artinya baik bagi seseorang mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri agar selalu berhasil dalam bertindak.

Batik Jambi juga mengenal proses pembuatan Batik dengan cap sama dengan Batik Jawa pada umumnya. Metode ini mempunyai dua jenis cap, kalau pada jaman dulu cap yang digunakan berukuran besar( ukuran 20x20 cm atau 20x25 cm) dan biasa yang mengerjakan adalah laki-laki, sekarang telah dibuat cap yang lebig kecil berukuran 2x2 cm sampai 15x15 cm sehingga dapat dikerjakan oleh para wanita dan remaja. Walaupun proses pembuatannya menggunakan cap tetapi tidak mengurangi khazanah budaya Jambi dan juga makna motif tersebut.


 
posted by 1235ty

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar