Rabu, 02 Juni 2010

Menatap keunikan kain tenun ikat Sumba Timur


Bagi masyarakat Sumba, sebuah daerah di kepulauan Nusa Tenggara Timur, kain tenun ikat telah menyatu dengan kehidupan keseharian dan memiliki makna tersendiri. Kain ini bukan hanya sebagai alat tukar niaga antar kerabat, tapi juga mengambil peran dalam beragam upacara adat. Misalnya dalam upacara perkawinan, pihak pria memberikan barang seperti emas dan kuda, sedang pihak wanita menyerahkan kain tenun dan perhiasan manik-manik. Upacara kematian dalam adat Sumba juga memperlihatkan keistimewaan kain ini dengan mengikutsertakan puluhan bahkan ratusan kain tenun ke dalam kubur. 
Tenun ikat Sumba dibagi dalam dua jenis, hinggi dan lau. Yang pertama umumnya dikenakan oleh pria nyaris dalam tiap upacara adat. Hinggi untuk pria dewasa berukuran sekitar 2 meter dan berfungsi sebagai selendang atau kain yang dililitkan di pinggang. Warna dominan kain ini adalah merah kecoklatan dan kebiruan. Para bangsawan lebih banyak memakai warna tersebut pertama, sedangkan biru dikenakan lebih banyak oleh rakyat biasa. Jenis kain kedua, Lau, dikenakan sebagai sarung oleh wanita. Kain ini adalah tenun ikat yang kemudian diberi teknik songket lungsi tambah. Sehingga corak yang terlihat di atas kain mirip dengan corak sulam. Di bagian tengah kain diberikan motif fauna seperti burung, udang, dan lainnya. Sama dengan Hinggi, Lau juga didominasi oleh warna merah kecoklatan, meskipun terdapat juga paduan warna lain. 
Proses pembuatan kain Sumba terdiri dari beberapa tahap. Kain kapas lebih dahulu diikat sesuai dengan pola yang diinginkan. Setelah itu dicelupkan ke pewarna alami yang berasal dari tumbuhan. Pemakaian warna alami bertujuan agar kain lebih awet, meskipun warna yang dihasilkan cenderung terlihat lebih gelap. Proses pengikatan dan pencelupan ini membutuhkan waktu beberapa bulan bahkan hingga setahun, tergantung berapa warna yang ada dalam satu lembar kain. Setelah dicelup dan dikeringkan, barulah kain dapat ditenun. Penenun kain tenun ikat umumnya perempuan bukan hanya trampil menguasai teknik pembuatan kain, tetapi juga mengetahui nilai budaya dalam masyarakat. 
Berbeda dengan tenun Sumba Barat yang didominasi motif geometris, tenun Sumba Timur lebih banyak menampilkan corak lingkungan dan unsur alam yang sarat makna. Pohon tengkorak, misalnya. Motif ini melambangkan penaklukan raja terhadap musuhnya dengan menggantung tengkoraknya di pohon lontar di halaman rumah raja. Sedangkan ragam hias lain yang banyak terlihat adalah motif flora dan fauna. Kuda yang peranannya vital dalam keseharian masyarakat, kerap dimunculkan dalam kain dengan penggambaran seolah-olah sedang mengayunkan kakinya ke depan dan belakang yang melambangkan keberanian ksatria. 
Saat ini, tenun ikat Sumba bukan hanya dipakai dalam upacara adat, tetapi telah menjadi bagian keseharian masyarakat, tidak hanya daerah Sumba, bahkan dalam lingkup nasional dan internasional. Seperti yang terlihat dalam pameran kain tradisional beberapa waktu lalu, kain tenun ini juga diolah menjadi pakaian dan perlengkapan interior rumah.
(posted by Jeng Lili)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar