Kamis, 15 April 2010

'Mendengar' dan 'Membaca' Kain di Adiwastra Nusantara 2010


                                                                              Tenun ikat NTT


Hari ini kami berkesempatan mengunjungi pameran tekstil yang bertajuk Adiwastra Nusantara. Eksibisi yang digelar di Balai Sidang Jakarta dari tanggal 14-18 April ini menampilkan koleksi kain tradisional dari berbagai daerah di Indonesia baik produksi baru maupun yang berusia ratusan tahun.

Memasuki hall A, kami disambut beragam koleksi kain gendongan pusaka dengan motif langka. Misalnya lurik dengan motif Tuluh Watu, yang melambangkan kekuatan dan keperkasaan. Motif ini telah disebutkan dalam prasasti raja Airlangga. Kami juga mendapati ulos dengan pola Batak tertua yang disebut Bintang Maratur. Sementara kain gendongan dari daerah lain seperti Lasem, Solo dan Pekalongan memiliki corak dominan bunga dan binatang. Selain berfungsi untuk menggendong anak, beberapa kain juga digunakan untuk mengangkut barang, contohnya lurik dengan motif Benang pedot.


Puas mengagumi corak kain antik, kami beralih menyusuri deretan stan di hall yang sama. Meski kebanyakan stan memajang batik dengan beragam motif, beberapa stan yang memajang  kain tenun ikat, songket dan tapis tak kekurangan peminat. Yang cukup menarik perhatian kami adalah stan kain Minahasa. Salah satu motif yang tergambar dalam kain dibuat dengan proses tenun tersebut adalah alat musik khas Minahasa yang biasa disebut Bia. Ide memunculkan motif ini dalam seni tekstil adalah melestarikan alat musik lokal yang nyaris punah.

Beranjak ke hall B, kami melewati stan koleksi batik keraton Jogja dan Solo. Penjelasan tentang sejarah batik dan makna simbolisnya banyak kami dapatkan. Bermula dari kerajaan Mataram, awalnya batik dibuat oleh wanita dalam lingkungan keraton untuk kepentingan pribadi. Seiring dengan kebutuhan, pasukan Mataram yang mengemban tugas keluar dibekali kemampuan yang sama. Hal ini menjelaskan mengapa di beberapa daerah, seperti Cirebon, pekerjaan membatik dulunya dikerjakan oleh pria.

Dalam motif klasik batik, terdapat unsur do’a atau pengharapan bagi pemakainya. Motif truntum, dipakai orang tua calon pengantin, untuk kelancaran acara. Sementara Parang rusak hanya dipakai oleh raja, karena melambangkan lidah api yang juga symbol kekuatan.

Usai menambah pengetahuan tentang batik, kami kembali menikmati warna dan corak kain yang kebanyakan telah diolah menjadi garmen siap pakai. Nyaris sama dengan ruangan sebelumnya, batik dalam berbagai bentuk garmen lebih mendominasi dibandingkan jenis kain lain seperti tenun. Harga yang ditawarkan cukup bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga puluhan juta.


Terlepas dari kurang lengkapnya variasi koleksi kain yang diperlihatkan, pameran ini layak mendapat apresiasi dari publik.  Setidaknya ia mengingatkan kita akan khazanah budaya tekstil Indonesia, yang perlu terus dipelajari dan dilestarikan.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar